Lombok, The Real Paradise
Akhirnya kesampaian juga jalan-jalan ke Lombok. Begitu tahu ada hari senin libur, yang artinya libur 3 hari karena sabtu juga libur, jauh-jauh hari sudah bilang istri supaya siap-siap minta cuti sehari (istriku hari sabtu tetap masuk kerja) dan minta ijin ke sekolah anakku. Berhubung peak season, maka tiket pesawat juga jadi pada naek. Untung pesennya sudah seminggu sebelumnya, jadi nggak sampai kehabisan tiket.
Jumat sore.
Berangkat pakai pesawat Merpati, dari SBY kira-kira jam 16.50 WIB, alhamdulillah gak pake delay, Merpati memang oke. Tiket sekitar 500 ribu/orang, masih relatif murah karena ada ibu-ibu yang pesen 2 hari sebelum berangkat harus bayar 900 ribu lebih. Usut punya usut, ternyata penerbangan sudah penuh di-booking sama rombongan TKI dari Malaysia. Jadi dari daya tampung pesawat paling cuman 30 orang yang bukan TKI. Kalau anda mau tiket pesawat lebih murah lagi, harus pesen tiket jauh-jauh hari sebelumnya dan pilih tarif promo, atau berangkat jangan pas hari libur. Kalau beruntung bisa bayar cuman 300 ribu/orang. Maskapai yang melayani dari Surabaya menuju Mataram antara lain Merpati, Batavia, Lion Air dan Wings Air.

Meski SBY – Mataram cuman sejam, pesawat sampai di bandara Selaparang, Ampenan, Mataram jam 19.00 kurang dikit, , itu karena WITA. Yang bikin kaget, pas kita sampai di bandara Selaparang, kita disambut sama ratusan keluarga TKI yang menjemput keluarganya. Wow…….
Jumat malam
Begitu keluar bandara, kita ditawari taksi bandara, tapi kita mau taxi yang blue bird aja, tinggal jalan keluar bandara (Selaparang nggak terlalu besar) lalu jalan ke kiri dikit, sudah kelihatan taxi blue bird yang mangkal. Bedanya dengan taxi bandara adalah dari kondisi mobil yang jauh banget, blue bird lebih bagus dan nyaman, kalau dari harga sih nggak terpaut jauh.
Kita bilang sama sopir taxinya mau ke Senggigi, karena malam itu memang kami merencanakan menginap di Hotel di Senggigi. Tapi karena saat itu adalah peak season, jadinya semua hotel penuh. Gile bener….. Padahal sudah nyari hotel dari ujung ke ujung. Dari yang murah sampai yang mahal. Semua full booked, kebanyakan tamunya bule semua.
Sangat disarankan sebelum kesana booking hotel dululah, takutnya kejadian seperti itu. Mana saat itu listrik mati lagi. Kayaknya di Lombok ini sering juga listrik mati, itu menurut sopir taxinya.
Sampai akhirnya ada satu cottage yang masih ada kamar, Crocodile River Cottage namanya. Cottage ini ada di tepi Sungai Jati Sela – Meninting – Lombok.
Lokasinya sih agak masuk ke kampung, tapi kamarnya keren. Perabotan dan dindingnya dari kayu dan rotan semua, kamar ada di lantai 2, toiletnya di lantai 1 agak terbuka mirip toilet di Bali, tapi ada water heater-nya, nggak ada AC soalnya hawanya sudah dingin banget.

Tarifnya sih standar aja, mungkin karena wisatawan lokal kali ya. Semuanya tamunya bule kecuali kami tentunya. Memang yang punya cottage itu orang bule juga sih, tapi dia fasih banget bahasa Indonesia, dia sempat menyambut pas kita mau check-in. Matur nuwun, Mister…..


Sabtu pagi
Pagi-pagi menikmati dinginnya sungai Meninting di depan kamar. Keren banget. Ditemani sarapan dua piring nasi goreng dan kopi hangat dan lemon-tea. Padahal tamu laen sarapan roti semua, kita maksa pilih nasi goreng. Dasar turis lokal…..

Rencana liburan seharian segera dijalankan. Dimulai dari pantai Senggigi. Pantai alam dikelilingi hotel, losmen dan bungalow.

Sangat indah sekali, terutama jika waktu sunset. Lokasi 10 km dengan kendaraan dari kota Mataram. Kami akhirnya menyewa motor buat jalan-jalan. Di sekitar pantai banyak kok tempat penyewaan motor, bahkan hotel-hotel disana juga menyewakan motor. Kami mendapat Honda Vario baru dengan harga 70ribu/hari. Anda dapat memesan motor (mobil juga ada lho) melalui sms atau telpon pada nomor 0370-6857391, 0370-6850357. Siap menemani perjalanan menikmati pantai Senggigi yang menawan….
Sabtu siang
Sampai di Lombok belum lengkap kalau belum melakukan wisata kuliner. Yang paling terkenal adalah ayam taliwang. Kita langsung menuju Resto Ayam Taliwang Haji Moerad di Mataram, kita pesen ayam bakar taliwang, plecing kangkung, beberuk dan minumnya es kelapa muda madu. Taliwang ternyata adalah nama suatu daerah, yang awalnya banyak penjual makanan khas Lombok di daerah ini. Makanan khas Lombok lainnya adalah ayam julat (ayam yang bumbunya pedas sekali). Plecing ternyata merupakan nama masakan, sehingga dikenal masakan kangkung yang diberi /dimasak bumbu plecing, ayam yang dimasak plecing (ayam diberi bumbu pedas, didiamkan, dibakar/digoreng, kemudian diberi bumbu pedas lagi).

Sambel beberok adalah sambel yang dibuat dari irisan terong ungu, irisan bawang merah, irisan tomat dan cabe. Minuman yang khas adalah kelapa madu, terdiri dari air kepala muda, dan kelapa mudanya di suwir-suwir serta diberi madu…..ehhm…sedaaap, bener-bener maknyus……
Sabtu Sore
Perjalanan berlanjut menuju Pantai Kuta. Ternyata di Lombok juga ada pantai Kuta. Pantai dengan pasirnya yg indah seperti merica, Mataram – Kuta ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam.

Katanya pantai ini sangat tidak nyaman bagi wisatawan karena banyak penduduk setempat yang menawarkan jualannya dengan memaksa, tapi alhamdulillah itu sama sekali tidak kita alami, penduduknya sangat ramah. Tapi kok sepiiii…..banget… Jauh sekali dibandingkan Kuta-Bali. Oleh-oleh dari pantai ini adalah pasir pantai yang mirip merica itu sebanyak satu botol besar, hehehehe…..

Sabtu Malam
Dari Pantai Kuta-Lombok, kami kembali ke Mataram untuk makan malam. Akhirnya kami coba warung kaki lima di depan (menyeberang jalan dulu) Mataram Mall yang juga menyediakan ayam taliwang, kami pesan menu yang sama seperti yang pernah kami pesan di Resto Haji Moerad. Harga hampir sama cuma sedikit lebih murah. Selain itu kami juga belanja oleh-oleh di Mataram Mall. Ting-ting Mete dan Dodol rumput laut serta aneka dodol buah menjadi pilihan. Setelah itu kembali ke hotel untuk tidur….Zzzzzz….Zzzzz….Zzzzz…..
Minggu Pagi
Hari itu kami berencana menuju Gili Trawangan. Dari hotel kami menuju pelabuhan Bangsal. Beratnya perjalanan menuju pelabuhan Bangsal yang penuh tantangan karena jalan naik-turun diapit pantai dan tebing-tebing bukit yang kering berbatu tertutupi oleh pemandangan yang sangat indah. Tiket kapal/feri menuju 3 Gili (Trawangan, Meno, Air) murah saja 10 ribu rupiah, dapat dibeli di kantor koperasi yang ada pelabuhan. Feri akan berangkat bila sudah penuh 20 orang, nunggunya nggak lama, kira-kira 10 menit. Perjalanan menuju Gili Trawangan memakan waktu 30 menit. Di gili nggak ada hotel, cuma guest house atau hostel aja. Ada sih yang bagus, namanya Villa Ombak.
Di Gili Trawangan (begitu juga di dua gili yang lain), tidak terdapat kendaraan bermotor. Sarana transportasi yang lazim adalah sepeda (disewakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan) dan cidomo, kereta kuda sederhana yang umum dijumpai di Lombok. Cidomo bisa disewa untuk keliling pulau.
Disini juga bisa diving dan snorkling, harga untuk turis lokal lebih murah, 300ribu (diving) dan 30 ribu (sewa snorkling). Pengunjung kebanyakan bule yang lagi tanning biar kulit makin gelap, kalo turis lokal kayak kita malah buru-buru pake topi lebar, dan kalo mau renang buru-buru pake sunblock biar kulit nggak gosong. Masak sudah item, gosong pula…….

Minggu Sore
Sepulang dari Gili Trawangan, kami mencari oleh-oleh mutiara. Ada yang dijual terpisah maupun yang sudah dirangkai menjadi perhiasan dengan emas dan perak. Harga bervariasi, dari puluhan hingga ratusan ribu. Kain tenun khas Lombok juga ada, pusatnya ada di Sukarara, sekitar 25 km dari Mataram. Tapi hampir semua oleh-oleh diatas bisa didapat dengan mudah di Mataram Mall. Puas berbelanja akhirnya kita menginap di hotel Mataram tepat di sebelah Mataram Mall, karena lebih dekat dengan bandara daripada hotel sebelumnya dan (terutama) yang penting murah (maklum duitnya sudah habis), hehehe……
Akhirnya perjalanan diakhiri dengan penerbangan Mataram – Surabaya dengan Batavia Air. Pada saat pulang, di Bandara Selaparang kami bertemu dengan Aura Kasih yang habis show di pulau ini, saat itu istri mengajak foto bersama dia tapi saya menolaknya. Entah karena kelelahan atau terpesona oleh Aura Kasih, akhirnya tripod saya tertinggal di bandara Selaparang – Mataram. Baru menyadari setelah sudah mendarat di Bandara Juanda. Sialan……..gara-gara Aura Kasih………





Ruang Tindakan di bangunan transisi, tahun 2007
IGD RSUD Nganjuk dengan wajah baru
Ruang Trauma IGD RSUD Nganjuk
Sri Wiludjeng, AMKeb (berdiri paling kiri berkacamata),salah satu paramedis IGD RSUD Nganjuk yang sudah 15 tahun bekerja akan pindah ke Ruang Bersalin (VK) RSUD Nganjuk. Tampak juga Ririn Setyorini, AMK beserta keluarga, Suparlan beserta istri, drg. Pritha Kunti NB, dr. Neta, Ny. M. Rofiq, AMK dan Bu Djariyatun.
Ada M.Rofiq dengan putrinya, Sri Nuryati, AMK (Kepala Ruangan IGD) beserta keluarga, Didik, AMK beserta keluarga dan Pak Sabar (Bag. Administrasi IGD)
dr. Budi Santosa beserta keluarga, Hendro, AMK beserta keluarga













